Postingan

Kumohon Hujjan Jangan Menghilang.. Ketika kamu adalah hujan kebahagiaan,  Dan suka mu adalah rintik yang membendung dalam skala nyata Begitu banyak dan tak berhemti Dan hujanku adalah kamu? Kamu yang menjadi bahagiaku Ketika satu senyuman adalah alasanku berkiprah Berkiprah jalani hari tanpa tangisan.. Dan ketika hujan berada Aku mengintaimu dari balik jendela Duhai angin jaangan kau rebut dia dariku Duhai petir,  Biarlah dia jadi sandaranku Sewaktu aku lelah jalani hari Hingga larut aku dalam pancaran kesucian negeri awan Tiap hujan yang berjatuhan Dialah yang menjdi penawar letih dalam satu sentuhan Dan... Kumohon jangan pergi terlebih dulu Hujan, Aku masih mengintaimu dalm gelisah Menahan rindu Dan tak menginginkanmu pulang Biarlah hujan saja Yang menemaniku disini Dengan deraasnya.. Aku merengkuh Bertahan Merindukanmu dalam kesakitan... Tentang hati,  UP3AD Temanggung

Wisata Embung Kledung, Temanggung - Sebongkah Rindu Untukmu

Gambar
Kepada Jingga yang Ku Rindukan Foto : Luklu'atul Asiyah Satu hal yang tak kumengerti,  Dari sekian baris dalam coretan kecil hidupku...  Kudapati senja yang menglonglong dalam langit mendung..  Siluet yang memangku dalam pandang  Aku terpesona dalam buana yang nyata..  Disana dilembah biru aku temukan..  Sesosok pangeran berkuda dibawah naungan senja Membawa sebongkah berlian dengan buah cinta yang nyata Dibalik itu, kudapati lagi seorang lelaki yang tak pernah kukenal Dia termenung disekujur danau,  Kutanya,  Siapakah kau duhai teman,..  Aku, adalah lelaki miskin yang sedang jatuh cinta  Tapi tak kudapati cinta itu kembali kepadaku..  Duhai, langit..  Aku bersenandung atas siapa yang menciptakanMu..  KepadaNya kau berserah diri duhai lelaki temanku..  Dan senja masih saja bersaja..  Aku tersentuh atas kisah yang kau haturkan duhai teman Dan kini aku terman...

Saat Harapan Tengah Pupus

Tanpa Judul Bukan saja tak melihat paras Tapi lumat dalam sekejap Seperti meja kerja yang berserakan Beribu kertas berhamburan Setumpuk tugas telah menunggu Tanpa tinta yang beradu, Dan aku.... Tinta, Tinta yang kau campur dengan air Aku adalah tinta dan aku adalah air Yang bersatu Dengan ketidakmungkinan Karena aku adalah aku Tergiur dengan berkas musuh Yang menampak sejuta dollar Sadar diri sudah Hati bukan pelampiasan harta Tak lain pelampiasan jiwa Kepada jiwa-jiwa yang kesepian Dan aku merasakan Tersiksa daku dengan harap semu Kau yang berutang seribu janji Kau lampiaskam dengan senyum manis lalu pergi Dan masih saja kuterpaku Dengan nada berlahan yang menusuk namun menghilang Roda-roda berputaran Mengintari hati yang melepuh Kian melepuh. Hingga kusadari Faajar tengah menyingsing Dan rutinitas sudah menunggu Yang kulihat pagi ini Aku tertidur dengan harapanmu... Temanggung, 21 februari 2017

Puisi Bersambung

Entah Sebilah pedang menancap dalam relung hati Menyayat membelah hati berkeping sudah Hancur lebur Obat apakah sembuhkan luka ini Bukan perban atau betadin Luka yang menganga Tak kasat mata Membaur menyeluruh semakin dalam terperosok Didalam jurang tak berkesampaian Entah kemana lagi aku berjalan Lewati arus untuk mencari obat Aku pernah lengah hingga terbuai Lalu laksana pahit telah merajam Dan mengikis dalam sanubari Dan ini hati yang terluka Lalu lenyap bahkan mati Untuk apa puisi ini? Bersambung...
Pelukan Sang Ilahi Kukejar angan namun tak pasti Kulalui rintang tak pernah terselesaikan Hingga datang pelangi senja Menghantarkanku pada kesejukan cahyanya Dan kupandangi hingga lenyap Sungguh kuasaNya begitu menawan Dan kutemani senja dikala riang dan berteriak dalam gelap Buaian cinta kasih yang kau padu di atas hingar binar kuasamu Dialah Sang Pemilik yang Agung Dengan rasa hormat kutunduk dalam sholatku Meski selalu kumeratapi Sampai kapan harus seprti Sampai kapan aku bisa memelukmu Ya Rabb Memeluk dalam khusyuk sholatku Memeluk dalam pinta atas nama CintaMu Tanpamu hidup tak layak Tanpamu hidup tak berarti Hingga kumemeluk kuasaMu ya Tuhanku Hingga hidupku hanya terpacu padamu.. Wahai hati yang masih kelu Putri Senja              Kisahku dalam Sujudku Temanggung, 24 januari 2017

REMEMBER WHEN- ASWA YUKS

Gambar
°~° [ BERSUARA DALAM PUISI ] Dulu, serasa absurd. Dulu, aneh. Dulu, dan dulu Tidak mungkin, Bak sebuah kapal, seketika mengepakan layar Mengabdikan diri, oh untukmu nahkoda pesiar Berlabuh didermaga "kebarokahan" itulah suratan Mulai mungkin, Sabetan sajadah, pintu awal harapan Kedinginan dalam tarian gayung beriringan Berbondong-bondong dalam rel-rel berderetan Demi secuil nasi dalam nampan Segera mungkin, Ketika pola ikatan sepatu mulai terlukis Menuju beton mengais Berlahan goresan tinta menari rapi Bersama bersemilir angin nan asri Siulan melodi burung harmoni Oh indahnya suratan ini Mungkin, Engkau yang dulu bukanlah yang sekarang Dulu rimbunan salak dan rambutan Kebun beton kinipun kau sandang Kebersamaan dalam kenangan Lebih dari financial yang tak terbilang Kini aku mengerti, tak ada yang di sesali Realita bersuara lebih dari ekspektasi Terimakasih telah menjadikanku alumni - A. Syarifudin - @copyright2017

Sajak Januari

Lapuk Tak Luput Panggung-punggung itu berjajar demi selembar kertas Yang masih terpaut dercak tinta. Dengan keringat meluluh menelantarkan Kasih sepanjang pedih kehidupan Saat renta- meraja Daya tak berkumpul Hanya bayang kosong merengkuh Deretan senja Hidup masih tentang peminta Dari hak yang disalahgunakan Para penguasa yang berdendang Dunia bukan tentang rakyat melaknat Nafsu beranjak Tapi tentang sukma-sukma yang merajah menjadi debu pengganggu penglihat Hujan membelah langit Memanjakan setiap insan.. Atas malas diri yang menguasa Sungguh?  Apakah peminta bisa bahagia.. Bukan jerit diatas diam Tak lain damai kehidupan.. Jiwa-jiwa telah lapuk Bersama rayap yang memakan Rayap berdasi penuh misteri Janji yang berkoar Hanya ilusi Kini bukan jua lapuk bersalah Dengan jamin penguasa Tapi rayap berdasi tak bertanggung jawab.. Saat rakyat bersuara .. Putri Senja